Internasional

Trump Tolak Gencatan Senjata Iran dan Unggah Ejekan ‘Selat Trump’, Sinyal Serangan Susulan Menguat

KETIKKABAR.com — Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menolak proposal gencatan senjata selama tujuh hari yang diajukan oleh Teheran serta mengisyaratkan bakal melancarkan gelombang serangan pengeboman lanjutan terhadap Iran usai pemilu sela (midterm election) pada November mendatang.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, Trump juga melontarkan aksi provokatif dengan mengunggah gambar rekayasa bertuliskan “Selat Trump” di platform Truth Social pada Minggu (27/9/2026), memicu kekhawatiran baru atas kelumpuhan jalur vital perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz.

Penolakan Tawaran Damai dan Provokasi ‘Selat Trump’

Penolakan keras Washington terhadap tawaran damai Iran menjadi puncak baru dari ekskalasi konflik kedua negara.

Berdasarkan laporan Wall Street Journal yang dikutip dari Daily Mail, proposal yang diajukan pihak Teheran sebenarnya mencakup komitmen untuk membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz serta mengawali perundingan program nuklir baru.

Sebagai imbal balik atas pembukaan jalur pelayaran tersebut, Teheran meminta AS mencabut blokade ekonomi yang melumpuhkan berbagai port pelabuhan di Iran. Namun, Trump menolak mentah-mentah persyaratan syarat tersebut dan memilih mempertahankan blokade maritim secara penuh.

Hanya berjarak sekitar setengah jam setelah laporan penolakan tawaran damai itu beredar luas, Trump mengunggah gambar rekayasa ‘Selat Trump’ di platform Truth Social miliknya.

Langkah provokatif ini mengingatkan publik pada tindakan masa lalunya saat mengubah nama Teluk Meksiko menjadi Gulf of America serta Danau Ontario menjadi Lake America melalui dekrit kepresidenan.

BACA JUGA:  Kodim 0108/Agara dan Warga Percepat Pembangunan Jembatan Gantung di Desa Buah Pala, Aceh Tenggara

Meskipun telah memamerkan lelucon digital tersebut, hingga berita ini diturunkan, Trump belum secara resmi menandatangani perintah eksekutif untuk merubah nama Selat Hormuz secara hukum.

Sementara itu, laporan Reuters menyebutkan bahwa pihak Iran masih menunggu jawaban formal atas proposal damai yang disampaikan melalui mediasi Qatar.

Skeptisisme AS dan Ancaman Pengeboman Lanjutan Usai Pemilu Sela

Di balik penolakan proposal damai tersebut, Wall Street Journal mengungkapkan bahwa Trump merasa sangat ragu dan skeptis bahwa Iran akan mematuhi tuntutan yang diajukan Washington.

Kepada para staf dekatnya di Gedung Putih, Trump mengindikasikan rencana untuk melancarkan fase pengeboman baru setelah pemilu sela digelar.

Sinyal serangan lanjutan ini menguat meskipun muncul pertanyaan besar mengenai kapasitas teknis amunisi militer AS yang dikabarkan kian menipis usai pertempuran berbulan-bulan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menegaskan bahwa implementasi tahap awal dari proposal gencatan senjata tersebut sebenarnya hanya membutuhkan waktu empat hingga lima hari.

Eskalasi ini sejalan dengan ancaman bernada ultimatum yang disampaikan Trump saat berpidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam pidatonyo, Trump secara terbuka melontarkan dua opsi ekstrem bagi masa depan Iran.

BACA JUGA:  Tujuh Dapur MBG Kadin Aceh Sudah Siap, Namun Masih Terkendala Moratorium BGN

“Apakah kesepakatan akan dibuat dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih besar dari sebelumnya? Mungkin menjadi salah satu yang terbesar di Timur Tengah atau bahkan di dunia?” ujar Trump.

“Atau haruskah saya memusnahkan Republik Islam itu secara cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan lagi untuk membunuh dan menghancurkan masyarakat serta negara-negara lain?” tegasnya.

Dampak Kelumpuhan Selat Hormuz terhadap Krisis Minyak Global

Konflik terbuka yang terus memanas antara AS dan Iran ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dunia. Sebelum pecah pertempuran militer, Selat Hormuz merupakan urat nadi logistik global yang dilalui oleh sekitar seperlima dari total pasokan perdagangan minyak mentah dunia.

Kelumpuhan aktivitas navigasi pelayaran di selat strategis tersebut akibat perang dan blokade maritim telah memicu guncangan pasokan, yang berujung pada lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional.

Dampak domino ini dirasakan langsung oleh masyarakat global melalui kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mahal di berbagai negara.[]

TERKAIT LAINNYA