Politik

Publik Lebih Menanti Hasil Kerja Nyata Ketimbang Konten Pejabat

KETIKKABAR.com – Tren pejabat publik yang membagikan dokumentasi aktivitas kerja harian melalui media sosial menuai sorotan dari pengamat politik, Hendri Satrio (Hensa).

Aksi ini dinilai sebagai upaya transparansi, namun tetap berisiko dianggap sekadar pencitraan jika tidak dibarengi dengan hasil nyata yang dirasakan masyarakat.

Fenomena ini mencuat setelah Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengunggah video aktivitasnya selama 24 jam di akun @teddy_hq.

Dalam tayangan tersebut, Teddy memperlihatkan kesibukan dari pagi hari hingga kembali ke rumah pada dini hari pukul 02.00, termasuk perjalanan dinas dan rapat koordinasi tingkat menteri.

Menurut Hensa, menjadi pejabat publik bukanlah hal mudah. Kerja keras yang dilakukan, meskipun telah didokumentasikan sedemikian rupa, tidak menjamin akan mendapatkan apresiasi penuh dari publik.

“Enggak mudah jadi pejabat seperti Teddy. Sudah kerja dari pagi, ke luar kota, lanjut rapat sampai tengah malam, pulangnya dini hari, tapi tetap saja ada yang bergunjing. Ini realitas yang sering terjadi,” ujar Hensa, Minggu (24/5/2026).

Hensa memandang bahwa dokumentasi tersebut dapat menjadi bentuk pertanggungjawaban yang membuka proses kerja yang selama ini jarang terlihat.

BACA JUGA:
Sikapi Isu Referendum, Pemerintah Didesak Wajibkan Tokoh Sumatera Jadi Cawapres 2029

Melalui tayangan ini, masyarakat setidaknya memiliki gambaran mengenai alur kerja seorang pejabat, sehingga tidak hanya berspekulasi.

“Kalau aktivitasnya sudah ditunjukkan seperti itu, publik jadi punya gambaran. Mau percaya atau tetap sinis, itu soal lain. Tapi setidaknya ada proses yang dibuka daripada sebelumnya hanya menebak-nebak tanpa dasar,” jelasnya.

Meski demikian, Hensa menganggap wajar jika sebagian masyarakat menganggap konten tersebut sebagai pencitraan.

Hal ini disebabkan adanya perbedaan ekspektasi antara proses kerja yang dipamerkan dengan dampak nyata yang ditunggu oleh masyarakat.

“Yang ditampilkan itu proses, rapat, perjalanan, aktivitas padat. Sementara publik biasanya menunggu hasil konkret. Jadi wajar kalau ada yang bilang ini pencitraan. Karena bagi publik, ukuran kerja itu bukan seberapa sibuk, tapi juga seberapa terasa dampaknya,” ungkapnya.

BACA JUGA:
Soroti Kasus Ade Armando, Pengamat Sebut PSI Masih Partai Kecil

Lebih lanjut, Hensa menilai strategi komunikasi ini bisa diadopsi oleh pejabat lain sebagai cara mengenalkan peran, tugas, dan program kerja kepada masyarakat.

Namun, ia mengingatkan bahwa efektivitas langkah tersebut pada akhirnya tetap bergantung pada capaian kinerja.

“Silakan saja kalau mau diikuti. Terutama pejabat yang selama ini tidak kelihatan. Jadi publik tahu dia itu siapa, apa yang dikerjakan, dan programnya apa. Tapi tetap saja, ujungnya bukan di kontennya, melainkan di hasil yang benar-benar dirasakan,” pungkas Hensa.[]

TERKAIT LAINNYA