KETIKKABAR.com – Curah hujan tinggi sejak beberapa hari terakhir menyebabkan banjir besar melanda sembilan kota dan kabupaten di Provinsi Aceh.
Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan bahwa wilayah yang terdampak meliputi Kabupaten/Kota Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Utara, dan Aceh Selatan.
Dampak banjir ini sangat signifikan, dengan ribuan warga terpaksa mengungsi dan banyak infrastruktur yang rusak.
Kota Langsa Terisolasi, Komunikasi Putus Total
Salah satu daerah yang paling parah terdampak adalah Kota Langsa. Sejak Rabu (26/11/2025), akses komunikasi terputus total akibat banjir, membuat sejumlah warga, seperti Teuku Zulman yang kini berada di Jakarta, tidak dapat menghubungi keluarga mereka yang tinggal di Langsa.
Zulman mengungkapkan, hingga Kamis (27/11/2025), ia belum menerima kabar apapun mengenai kondisi keluarganya.
“Komunikasi ke Kota Langsa putus total sejak kemarin siang. Kabar terakhir, banjir melanda hampir seluruh wilayah Kota Langsa,” ujar Zulman.
Ia juga mengungkapkan bahwa banjir kali ini adalah yang terbesar dalam 30 tahun terakhir, dengan banyak warga kesulitan menghubungi kerabat mereka di luar daerah.
Menurut petugas Pusat Pengendalian Operasi BPBA (Pusdalops), Fauzan, banjir menyebabkan lumpuh total di lokasi kejadian, termasuk padamnya listrik dan internet.
“Akses listrik dan internet terputus. Lima tower transmisi milik PLN tumbang akibat banjir dan sedang dalam proses pemulihan,” kata Fauzan.
Hingga saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai kapan pemadaman listrik di Langsa akan pulih.
Banjir dan Longsor Terparah di Langsa dan Lhokseumawe
Di Langsa, banjir disebabkan oleh kiriman air dari lahan perkebunan kelapa sawit milik PTPN 1 Langsa. Sebanyak 110 rumah di Desa Paya Bujok Seulemak terendam dengan ketinggian air mencapai 20 hingga 40 cm.
Selain banjir, wilayah tersebut juga mengalami longsor di beberapa kecamatan, termasuk Langsa Barat, Langsa Kota, Langsa Lama, dan Langsa Timur.
Sementara itu, di Kota Lhokseumawe, banjir menyebabkan lumpuhnya aktivitas perkantoran dan sekolah.
Dinas Informasi dan Komunikasi Lhokseumawe mencatat bahwa 27 dari 68 desa terendam, dengan 27 titik pengungsian yang telah dibuka.
Kepala Dinas, Taruna Putra Satya, mengungkapkan bahwa tim evakuasi kesulitan menjangkau beberapa titik pengungsian, seperti Desa Blang Naleung Mameh di Kecamatan Muara Satu, yang terendam hingga dua meter.
“Kami telah mengerahkan seluruh boat yang dimiliki, tetapi masih belum bisa menjangkau seluruh titik,” kata Taruna.
Pemerintah Daerah dan BPBA Bergerak Cepat
Pemerintah daerah dan BPBA terus memantau kondisi lapangan dan berkoordinasi untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal.
Plt Kepala BPBA, Fadmi Ridwan, menyatakan bahwa sembilan kabupaten dan kota telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi, termasuk Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Singkil, Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat.
BPBA juga mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap waspada terhadap potensi banjir, tanah bergerak, dan longsor, terutama di daerah dengan curah hujan tinggi.
“Kami juga fokus pada distribusi bantuan dan evakuasi korban banjir. Kondisi di beberapa titik memang sangat sulit dijangkau karena ketinggian air yang luar biasa,” ujar Fadmi.
Hingga Kamis, 27 November 2025, BPBA mencatat sebanyak 14.235 kepala keluarga (KK) atau 46.893 jiwa terdampak banjir, dengan 455 KK atau 1.497 jiwa mengungsi.
BPBA bersama instansi terkait terus berupaya memberikan bantuan, memulihkan infrastruktur, dan melakukan evakuasi di berbagai titik pengungsian yang belum terjangkau.[]
Polda Aceh Percepat Evakuasi Korban Banjir dan Pastikan Keamanan di Tengah Bencana


















