Politik

Polemik Ijazah Jokowi Makin Panas: Muncul Nama Mantan Intel, Tuduh Ada Peran “Pasar Pramuka”

KETIKKABAR.com – Polemik soal keaslian ijazah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali memanas. Alih-alih mereda setelah laporan Jokowi ke pihak kepolisian, sejumlah tokoh publik justru makin berani buka suara, menyuarakan dugaan kuat bahwa ijazah Jokowi tidak otentik.

Sosok-sosok baru pun mulai muncul ke permukaan, membawa narasi dan data yang menguatkan dugaan lama: bahwa dokumen akademik Jokowi diduga palsu.

Nama politisi Beathor Suryadi, mantan kader PDIP, jadi sorotan ketika ia menyebut ijazah Jokowi diduga dibuat di Pasar Pramuka, Jakarta Timur—lokasi yang selama ini dikenal sebagai “pusat” pembuatan dokumen palsu.

Pernyataan Beathor yang viral itu kini mendapat penguatan dari tokoh yang tak kalah mengejutkan.

Adalah Kolonel Inf. (Purn.) Sri Radjasa Chandra, seorang purnawirawan intelijen negara, yang turut menyuarakan keyakinannya bahwa ijazah Jokowi tidak diterbitkan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Setelah saya teliti, saya sekarang sudah yakin ijazah itu palsu,” tegas Sri Radjasa dalam wawancaranya di kanal Forum Keadilan, Kamis (10/7/2025), dikutip dari Tribunnews.com.

Ia juga membenarkan bahwa Pasar Pramuka memang menjadi pusat pembuatan dokumen palsu, termasuk ijazah, sejak lama.

BACA JUGA:
Hadapi Sidang Ijazah Jokowi, Pengacara Roy Suryo Siapkan Bukti dan Ahli

“Ahlinya ada di belakang kios-kios itu,” ungkapnya.

Baca juga: Rocky Gerung Sindir Pedas Soal Ijazah Jokowi: “Asli Ijazahnya, Palsu Pemiliknya”

“Tahun 1990-an, tarif ijazah palsu dari kampus swasta tak terkenal saja bisa Rp8 juta. Ijazah negeri lebih mahal.”

Lebih mengejutkan lagi, Sri Radjasa menyebut nama Paiman Raharjo, mantan Wakil Menteri Desa (Wamendes) PDTT, sebagai pihak yang diduga berperan dalam pembuatan ijazah Jokowi. Menurutnya, Paiman adalah relawan “Sedulur Jokowi” yang kemudian mendapat posisi strategis setelah pilpres.

“Begitu saya angkat soal ini, langsung kelabakan tuh Paiman,” sindirnya.

Sri Radjasa juga mengaku telah berdiskusi dengan Rismon Sianipar, pakar forensik digital yang berkali-kali menyatakan bahwa ijazah Jokowi hasil rekayasa digital.

BACA JUGA:
Soal Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan, Jokowi: Itu Kewenangan Kejaksaan

“Rekam jejak akademik seperti skripsi dan lembar penilaian hilang. Itu menguatkan bahwa ini bukan ijazah asli,” tambahnya.

Ia menduga ijazah itu dicetak antara tahun 2012 atau 2014, masa di mana Jokowi mulai naik ke panggung nasional.

Sementara itu, Dokter Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa, menyatakan bahwa usai laporan Jokowi masuk tahap penyidikan di Polda Metro, semakin banyak pihak yang bersedia bicara.

“Beberapa mahasiswa UGM angkatan yang sama atau mendekati tahun kelulusan Jokowi mengirimkan dokumen-dokumen seperti ijazah dan transkrip nilai. Semakin memperkuat dugaan kami bahwa ijazah beliau tidak sesuai,” ujarnya.

Sri Radjasa menyindir sikap Jokowi yang hingga kini enggan menunjukkan ijazah fisik secara terbuka, padahal itu bisa menjadi jalan cepat untuk mengakhiri polemik ini.

“Kalau memang asli, ya tunjukkan saja. Publik sudah terlalu lama dibiarkan berspekulasi.” ujar Sri. []

TERKAIT LAINNYA