KETIKKABAR.com – Sudah dua hari sejak gencatan senjata antara Iran dan Israel diberlakukan, namun ketidakhadiran Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei selama hampir satu minggu justru menambah kecemasan publik.
Kekhawatiran mengenai kondisi Khamenei mencuat di tengah situasi politik dan militer yang belum stabil pasca-perang besar dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Dalam siaran televisi pemerintah Iran yang ditonton jutaan warga, Mehdi Fazaeli, Kepala Kantor Arsip Khamenei, dicecar pertanyaan langsung tentang kondisi sang pemimpin tertinggi.
“Orang-orang sangat khawatir tentang Pemimpin Tertinggi. Bisakah Anda memberitahu kami bagaimana keadaannya?” tanya pembawa acara.
Namun Fazaeli tak memberikan jawaban tegas, hanya menyerukan doa dan menyebut pengamanan terhadap Khamenei sedang dilakukan secara maksimal.
“Kita semua harus berdoa… Semoga rakyat bisa merayakan kemenangan bersama pemimpinnya,” ujarnya, tanpa merinci kondisi kesehatan Khamenei.
Baca juga: Iran Gugat AS ke PBB Usai Serangan ke Fasilitas Nuklir
Kekosongan informasi itu memicu berbagai spekulasi, termasuk laporan The New York Times yang menyebut Khamenei kemungkinan bersembunyi di bunker dan menghindari komunikasi elektronik untuk menghindari pembunuhan.
Ketidakhadiran Khamenei terjadi dalam momen krusial. Serangan Israel dan AS pada 13–22 Juni menghantam tiga fasilitas nuklir utama Iran: Natanz, Fordow, dan Isfahan. Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal ke pangkalan AS di Qatar dan menghujani wilayah Israel dalam Operasi True Promise III.
Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada 24 Juni, bayang-bayang perang belum hilang, apalagi dengan dugaan ancaman pembunuhan terhadap Khamenei yang masih nyata.
Hamzeh Safavi, putra penasihat militer Khamenei, menyebut Israel kemungkinan masih berupaya menargetkan nyawa Khamenei, bahkan di tengah gencatan.
“Karena itulah, pengamanan dilakukan secara ekstrem. Tapi beliau masih terlibat dalam pengambilan keputusan penting,” ujar Safavi.
Dalam kekosongan publik Khamenei, kontestasi kekuasaan mulai mencuat. Menurut empat pejabat senior Iran, para politikus dan komandan militer kini berebut pengaruh, mencerminkan ketegangan antara dua faksi besar: kubu reformis moderat dan kelompok garis keras konservatif.
Baca juga: Trump Ngamuk Disebut Gagal Hancurkan Fasilitas Nuklir Iran
Kubu moderat dipimpin oleh Presiden Masoud Pezeshkian, yang mendukung reformasi, keterbukaan sosial, dan diplomasi, termasuk kemungkinan kembali berunding dengan Amerika Serikat meski dalam bayang-bayang serangan terhadap Iran.
“Perang telah memberi peluang untuk mengubah cara kita memimpin dan melayani rakyat,” kata Pezeshkian dalam rapat kabinet, Rabu lalu. “Ini adalah kesempatan emas untuk perubahan.”
Sementara itu, faksi konservatif yang dipimpin Saeed Jalili dan didukung oleh elemen kuat dalam Garda Revolusi mengecam keras gencatan senjata dan rencana negosiasi ulang nuklir.
“Langkah Presiden menunjukkan ketidaksiapan politik untuk memimpin negara,” sindir analis konservatif Foad Izadi, sekutu Jalili, melalui media sosial.
Namun kritik itu segera dibalas oleh Ali Ahmadnia, Kepala Komunikasi Presiden, yang menyebut kelompok konservatif sebagai penghambat persatuan nasional.
“Kita bertarung melawan Israel 12 hari tanpa henti, lalu kalian sibuk menyelesaikan teka-teki musuh dengan pena kalian?” tulisnya.[]

















