Daerah

Frengky Mengaku Tuhan, Ibadah Telanjang di Papua Dibubarkan Warga

KETIKKABAR.com – Sebuah aliran kepercayaan nyeleneh menghebohkan warga Kampung Kobaim, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Papua.

Seorang pria bernama Frengky Monim mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan memimpin ritual ibadah telanjang di alam terbuka. Fenomena ini menjadi sorotan setelah video aktivitas kelompok tersebut viral di Facebook.

Dalam video yang tersebar luas, Frengky tampak hanya mengenakan celana pendek saat memimpin ibadah di tengah gelap subuh.

Pengikutnya pun diminta melaksanakan ritual serupa: telanjang bulat, tanpa lampu, dan harus masuk melalui pintu belakang pondok kecil yang mereka bangun di belakang SMA Negeri 1 Nimboran.

Yang membuat geger, Frengky menyebut anak yang lahir dari perempuan hamil dalam kelompok itu sebagai “anak roh kudus”. Narasi ini menyebar cepat dan memantik keresahan di kalangan masyarakat setempat.

BACA JUGA:
Wakil Bupati Aceh Besar Peusijuek 28 Calon Haji Lingkup Disdikbud

Ibadah di Bawah Gelap Subuh

Ritual kelompok ini dilakukan secara rutin pada pukul 5 pagi. Mereka percaya bahwa penyucian spiritual hanya bisa terjadi dalam kegelapan. Tidak boleh ada cahaya. Tidak boleh ada keraguan.

Aliran ini dikabarkan telah berlangsung diam-diam selama tiga bulan sebelum akhirnya dibubarkan oleh pemuda Kampung Kobaim pada 6 April 2025.

“Kami dapat informasi dari warga dan langsung turun ke lokasi. Ternyata benar ada aktivitas menyimpang,” ujar Kapolres Jayapura, AKBP Umar Nasate.

Diusir, Frengky Kabur ke Sorong

Menurut Umar, pengikut Frengky tak melakukan perlawanan ketika diminta menghentikan kegiatan mereka. Sebagian dari mereka melarikan diri, termasuk Frengky sendiri, yang kini diketahui berada di Sorong.

Meski tak ditemukan adanya korban atau praktik penipuan dalam kelompok tersebut, kehadiran aliran ini tetap dianggap membahayakan ketertiban masyarakat.

BACA JUGA:
PWI Pusat Serahkan Uang Duka untuk Keluarga Alm. Zulmansyah Sekedang di Pekanbaru

“Tidak ada warga yang dirugikan secara materi. Tidak ada juga iming-iming. Tapi praktiknya sudah sangat menyimpang,” kata Umar.

Langkah Tegas Aparat

Polres Jayapura kini memperluas kewaspadaan. Instruksi telah dikirim ke 12 Polsek di wilayah Kabupaten Jayapura untuk mendeteksi dini aktivitas mencurigakan serupa.

“Saya sudah minta Kapolsek untuk tindak tegas kalau muncul lagi kelompok seperti ini,” ujar Umar.

Cermin Krisis Identitas atau Kegelisahan Sosial?

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan lebih dalam: bagaimana seseorang bisa percaya dan mengikuti ajaran yang ekstrem? Di Papua, seperti di banyak wilayah Indonesia lainnya, kepercayaan terhadap tokoh kharismatik yang mengklaim “wahyu” bukan barang baru. Tapi ketika keyakinan itu mulai meresahkan dan menyimpang, negara harus hadir.[]

TERKAIT LAINNYA