KETIKKABAR.com – Dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Aceh kian menghangat. Sejumlah pengamat melontarkan penilaian terhadap figur yang dinilai layak memimpin Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Aceh, termasuk terhadap drh. Nurdiansyah Alasta, M.Kes.
Sebagian pihak meragukan kapasitas Nurdiansyah. Namun penilaian tersebut dibantah oleh kader di daerah yang mengikuti langsung dinamika internal partai.
Ketua DPC Partai Demokrat Pidie Jaya, Teuku Guntara, menyatakan keraguan terhadap Nurdiansyah tidak berdasar dan mengabaikan rekam jejak politik yang telah dibangun.
“Sebagai kader di daerah, kami memahami betul kebutuhan internal partai ke depan. Dari kacamata kami, Nurdiansyah bukan hanya layak, tetapi juga memiliki modal politik yang kuat untuk memimpin Demokrat Aceh,” ujar Teuku Guntara.
Menurut Guntara, perjalanan politik Nurdiansyah menunjukkan konsistensi dan kapasitas kepemimpinan. Saat ini Nurdiansyah menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPRA, pernah memimpin Fraksi Demokrat di DPRA, serta dipercaya sebagai Bendahara Demokrat Aceh.
“Orang boleh berpendapat, tetapi menafikan pengalaman dan posisi strategis yang pernah dan sedang diemban Nurdiansyah adalah penilaian yang tidak objektif,” katanya.
Guntara menilai, munculnya keraguan terhadap figur yang memiliki rekam jejak jelas justru menimbulkan tanda tanya.
“Kalau masih ada yang mengatakan beliau belum layak, kami melihat itu keliru. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada kepentingan tertentu di balik penilaian tersebut,” ujarnya.
Ia menyebut kader di daerah melihat Nurdiansyah sebagai representasi kader yang tumbuh melalui proses panjang di partai.
“Kami di daerah bangga melihat kader yang berproses, memahami partai, dan memiliki komunikasi politik lintas sektor yang kuat. Itu yang dibutuhkan Demokrat Aceh ke depan,” ucapnya.
Guntara optimistis, jika Demokrat Aceh dipimpin figur yang memahami mesin partai dan realitas politik daerah, peluang mengembalikan kejayaan partai pada pemilu mendatang semakin terbuka.
Ia juga menilai kepemimpinan di tingkat nasional menjadi energi bagi kader di daerah, termasuk peran Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), serta Teuku Riefky Harsya yang dipercaya di kabinet.
“Semangat itu menjadi motivasi bagi kader, termasuk Nurdiansyah, untuk membawa Demokrat kembali kuat dan diperhitungkan di Aceh,” kata Guntara.
Menurut dia, Musda bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, melainkan momentum menentukan arah masa depan partai di Aceh.
“Kami optimistis Nurdiansyah mampu dan layak memimpin Demokrat Aceh. Yang dibutuhkan saat ini adalah figur yang sudah teruji, bukan sekadar wacana,” demikian Teuku Guntara. []
AHY Ingatkan Kader Demokrat Aceh, Gelar Musda Harus Solid dan Hindari Konflik










