KETIKKABAR.com – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa serangan udara Amerika Serikat dan Israel telah menghancurkan seluruh upaya diplomatik yang masih tersisa.
Menurutnya, Iran tidak pernah meninggalkan meja perundingan justru diplomasi yang dihancurkan oleh serangan militer.
“Pekan lalu kami berdialog dengan AS, lalu Israel menyerang. Pekan ini kami berbicara dengan Eropa, lalu AS menggempur. Jadi, siapa sebenarnya yang menghentikan diplomasi?” ujar Araghchi melalui akun X, Minggu (22/6/2025).
Ia menolak seruan Inggris dan Uni Eropa agar Iran “kembali” ke jalur diplomatik. “Bagaimana mungkin kami kembali ke meja yang tak pernah kami tinggalkan apalagi sudah diledakkan?” katanya tajam.
Baca juga: Serangan AS ke Iran Dinilai Picu Ancaman Perang Dunia
Saat ditanya apakah masih ada ruang untuk dialog, Araghchi menjawab tegas: “Tidak sekarang.” Menurutnya, Iran sedang berada di bawah agresi terbuka dan berhak mempertahankan diri. Ia menuding serangan AS sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.
“Amerika Serikat dan Israel telah menunjukkan bahwa mereka bukan mitra damai. Mereka memaksakan perang dan akan bertanggung jawab atas seluruh konsekuensinya,” tegasnya.
Hassan Ahmadian, dosen di Universitas Teheran, menilai serangan ini membuktikan bahwa sistem internasional berbasis hukum kini rusak parah.
“Israel sebelumnya langgar Piagam IAEA. Kini AS melanggar Piagam PBB. Dunia kehilangan kompas hukum,” ujarnya kepada Aljazirah.
Ia memprediksi Iran akan melancarkan balasan terukur ke pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Iran disebut ingin menghindari korban jiwa agar konflik tak meningkat ke skala perang besar.
“Lebih dari 50 pangkalan AS mengelilingi Iran. Jika Iran diserang, maka mereka akan membalas ke sumber serangan,” jelas Ahmadian.
Baca juga: Trump Ancam Iran: Balasan Akan Dihantam “Lebih Besar dari Malam Ini”
Sementara itu, profesor di Universitas Georgetown Qatar, Mehran Kamrava, menyebut kawasan kini menjadi titik api.
“Lebih dari 40 ribu tentara AS ada di wilayah ini. Itu artinya, 40 ribu target potensial bagi Iran,” katanya.
Menurut Kamrava, Iran kemungkinan akan meniru strategi pembalasan terukur seperti yang mereka lakukan usai pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani pada 2020.
“Tapi satu hal pasti, Iran tidak bisa tinggal diam. Secara politik, mereka harus merespons. Diam berarti tunduk pada kehendak Trump,” tutupnya.[]










